Makan Daging Terlalu Banyak Picu Diabetes
Makan Daging Terlalu Banyak Picu Diabetes. Kali ini saya akan membahas tentang Makan Daging Terlalu Banyak Picu Diabetes. Kenapa saya memutuskan untuk membahas materi ini? Banyak orang saat ini hanya mengetahui penyebab dari diabetes adalah gula. Benar. Gula menjadi penyebab dari diabetes yang menduduki peringkat pertama, akan tetapi tahukah kalian ternyata Makan Daging Terlalu Banyak Picu Diabetes? Ya, sebagian besar orang belum mengetahuinya. Oleh karena itu mari langsung saja kita membahas materi tersebut.
Para peneliti dari Singapura melaporkan terlalu banyak makan daging merah dan daging ungags dapat meningkatkan risiko diabetes seseorang. Namun demikian, dikatakan oleh para peneliti tersebut, Ikan dan kerang laut tidak memicu meningkatnya risiko diabetes seseorang.
Banyak penelitian yang telah menjelaskan bahwa makanan yang berasal dari tanaman lebih baik untuk dimakan daripada makan daging terlalu banyak. Sebagai contoh, bulan lalu (Agustus 2017), Medical News Today melansir atas penelitian yang menghubungkan konsumsi sayuran dengan rendahnya kadar kolesterol.
Di waktu yang sama, banyak sekali penelitian yang menghubungkan pola makan daging dengan tingginya risiko terhadap penyebaran diabetes.
Penelitian yang datang dari Duke-NUS Medical School, Singapore, membenarkan penelitian sebelumnya dan menambahkan beberapa alasan mengapa makan daging terlalu banyak dapat menyebabkan seseorang terkena diabetes.
Prof. Woon-Puay Koh, seorang professor Clinical Science, Duke-NUS Medical School, bersama timnya mengevaluaso hubungan antara daging merah, ungags, ikan, dan kerang laut dengan diabetes tipe 2. Mereka menggunakan analisis heme iron yaitu dengan menghitung kadar zat besi dalam darah yang berasal dari daging yang dimakan.
Penelitian tersebut telah dipublikasi dalam jurnal American Journal of Epidemiology.
Daging Merah dan Unggas Picu Naiknya Risiko
Para peneliti menganalisis data dari Singapore Chinese Health Study yang melibatkan 63.257 orang dewasa dengan umur 45 hingga 74 tahun. Partisan telah direkrut dalam penelitian ini antara tahun 1993 dan 1998, mereka telah menjalani prosedur pemeriksaan dalam dua gelombang: pertama tahun 1999 hingga 2004, kedua tahun 2006 hingga 2010.
Telah diketahui dengan pasti bahwa mereka yang makan daging merah dan ungags dengan intensitas yang tinggi memiliki risiko diabetes yang tinggi pula. Di sisi lain, mereka yang mengonsumsi ikan dan kerang laut tidak ditemukan tanda apapun terhadap meningkatnya risiko diabetes.
Orang yang makan daging terlalu banyak, para peneliti mencatat, memiliki 23% risiko lebih tinggi daripada mereka yang hanya makan daging merah dalam jumlah kecil. Makan daging unggas meninggkatkan risiko 15% terhadap diabetes.
Hal yang berbanding terbalik terjadi ketika seseorang merubah pola makan mereka menjadi makan ikan atau kerang laut. Peneliti mengatakan mereka yang makan daging ikan atau kerang laut mampu menurunkan risiko diabetes.
Pada konteks ini, peneliti juga mengamati dampak dari heme iron sebagai hubungan antara konsumsi daging dan diabetes. Mereka menemukan bahwa zat besi yang tinggi ketika dikonsumsi menyebabkan meningkatnya risiko penyebaran dari diabetes.
Apakah Zat Besi hanya Besi saja?
Berikutnya, peneliti menguji apakah dengan menambahkan atau tidak dari senyawa zat besi pada makanan seseorang dapat menimbulkan dampak pada risiko lainnya.
“Setelah prosedur penambahan zat besi pada makanan, hubungan antara daging merah dan risiko diabetes […] tetap menunjukkan statistik yang signifikan, sedang penambahan pada unggas hilang.”
Hal ini, menurut mereka para peneliti, memungkinkan adanya zat lain pada daging merah, selain besi, yang bertanggung jawab terhadap meningkatnya risiko diabetes, namun hal ini tidak terjadi pada unggas.
Pada kasus unggas, penelitian tersebut menunjukkan bahwa terdapat beberapa bagian pada unggas yang rendah zat besi daripada yang lain. Sepeti daging dada ayam, yang memiliki kandungan zat besi lebih rendah daripada daging paha ayam, oleh karenanya dada ayam lebih baik untuk dikonsumsi.
Prof. Koh menjelaskan bahwa penelitian ini bukan untuk menakuti orang-orang untuk berhenti makan daging. Lebih jauh, menurutnya, mereka harusnya lebih berhati-hati terhadap jumlah dan tipe daging apa yang cocok untuk mereka.
“Kami tidak ingin menghapus daging dari makan harian. Orang-orang Singapura hanya butuh mengurangi konsumsi harian, khususnya daging merah, dan pilihlah dada ayam dan ikan atau kerang laut, atau sayuran dan produk makanan yang mengandung protein untuk mengurangi risiko diabetes.” pungkas Prof. Woon-Puay Koh.
Kesimpulannya, mengonsumsi apapun harus disesuaikan dengan kebutuhan aktivitas harian. Sehingga tidak terjadi penyumbatan atau kesalahan penyerapan nutrisi dalam tubuh yang berujung pada penyakit.
Berhati-hatilah dalam mengonsumsi sesuatu yang melebihi batas wajar. Segala sesuatu memiliki batas, termasuk tubuh kita. Mengonsumsi makanan tertentu dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan efek yang kurang baik terhadap kesehatan kita. Beritahukan kepada orang-orang yang anda sayangi, agar mereka jadi lebih berhati-hati serta memberi batasan atas apa yang mereka konsumsi. Terimakasih..


Post a Comment for "Makan Daging Terlalu Banyak Picu Diabetes"